Quo Vadis Pergerakan Mahasiswa
Dan ada yang turun dari truk, bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak mereka
“Terima kasih pak, terima kasih!
Bapak setuju kami, bukan?”
Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak!”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima kasih begitu jujurnya
Pada orang kecil seperti kita,
(Taufiq Ismail, Dari Seorang Tukang Rambutan Kepada Istrinya)
Sebuah perjuangan memang indah ketika heroisme menyapa. Disambut banyak orang, dielu-elukan. Adakah hal yang paling indah selain merasa berguna dan membuat tersenyum orang lain? Mungkin karena itulah mahasiswa Indonesia yang dilukiskan Taufiq Ismail empat puluh satu tahun lalu, bersedia berjuang demi rakyat, demi sesuatu yang “bukan dirinya”.
Bukan hanya mahasiswa Indonesia. Di tahun yang sama, mahasiswa Cina pun meneriakkan kata-kata indah yang menegaskan perjuangannya: “Kita ditentukan untuk menjadi cemara dan gunung tinggi: namun kita tidak akan pernah menjadi bunga yang tumbuh di rumah kaca!”. Kata-kata inilah yang diteriakkan mahasiswa Cina dalam Revolusi Kebudayaannya. Kata-kata yang diteriakkan demi melihat pendidikan yang basis karakternya terpisah dengan kenyataan. <--!more-->Berjuang dan bersatu dengan kekuatan rakyat, itulah pilihan yang mereka ambil. Sebuah pertanda bahwa mahasiswa bukanlah manusia eksklusif, seperti bunga yang tumbuh di rumah kaca.
Karena Kita Mahasiswa
Dalam perubahan sosial di berbagai negara, peran gerakan mahasiswa memang kompleks dan penting meski tidak selalu menentukan. Begitulah yang ditulis Ignatius Mahendra, salah satu aktivis mahasiswa, dalam bukunya yang berjudul Bergerak Bersama Rakyat. Baginya, predikat mahasiswa bukanlah kelas tersendiri dalam masyarakat.
Kesadaran ini sebenarnya juga sudah dimiliki oleh mahasiswa kita. Bornop Tigor Naipospos menjelaskan generasi mahasiswa 1980-an (juga 1990-an) jelas banyak belajar dari “kegagalan” gerakan mahasiswa sebelumnya. Mereka tidak lagi memitoskan diri sebagai satu-satunya kekuatan oposisi yang efektif dan mampu melakukan perubahan.
Dalam bukunya yang berjudul Gerakan Mahasiswa Pasca NKK, anggota Dewan Presidium Yayasan Pijar ini berpendapat, mahasiswa adalah bagian dari sebuah kekuatan yang lebih besar, yaitu kekuatan rakyat. Karakter gerakannya bersifat intelektual, sehingga untuk mendorong proses perubahan politik, mereka perlu bekerja sama dengan rakyat yang menjadi ‘pemukulnya’.
Roy Rondonuwu, aktivis Dewan Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Dema Unpad) tahun 1978 bertutur, “Mahasiswa juga rakyat, tapi rakyat yang beruntung karena punya intelektual yang lebih sehingga bisa mengecap gelar mahasiswa. Karena komunitasnya yang intelektual, seharusnya mahasiswa dan rakyat menjadi dua sisi yang bersinergi.” Bahkan dengan nada mengingatkan, ia memaparkan bahwa mahasiswa perguruan tinggi negeri masih berhutang banyak pada rakyat.
“Kalau mahasiswa dari perguruan tinggi swasta, mungkin dia lain karena mereka membayar lebih. Tapi kalau di negeri, berapa yang orang tua mahasiswa bayar? Mereka itu disubsidi oleh pemerintah, yang diambil dari uang rakyat. Jadi memang seharusnya mahasiswa itu merakyat, dia belajar untuk kembali lagi menjadi rakyat,” tegasnya.
Senada dengan Roy, pengamat politik dan media dari ITB, Yasraf Pilliang mengatakan mahasiswa istimewa karena cara berfikirnya.
“Mahasiswa bisa berfikir sistematis. Orang awam kan tidak terbiasa dengan cara berfikir seperti itu. Dalam perjuangan itu bisa digunakan. Sementara orang awam karena tidak memiliki itu, ia tidak memiliki peluang untuk menjadi pemimpin sebesar mahasiswa,” ujarnya.
Namun bukan berarti karena itu mahasiswa bisa lepas tangan. Salah satu alasannya, persis seperti yang dikatakan Hermawan dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), bahwa mahasiswa pun nantinya akan mengalami satu kondisi yang serupa dengan yang dialami rakyat.
“Banyak aksi dilakukan bersama mahasiswa, tapi saat masuk ternyata ada keuntungan yang dimanfaatkan. Ya, memang tidak setiap organisasi muncul dari keinginan rakyat sendiri”, jelasnya.
Tugas Berat Mahasiswa
Banyak alasan yang melatarbelakangi mahasiswa untuk senantiasa berjuang. Ini memang pilihan sulit, apalagi jika dihadapkan pada pilihan yang lebih baik, seperti menjadi mahasiswa berprestasi, lulus tepat waktu, mendapat pekerjaan yang layak, dan hidup mapan. Tapi, toh tetap ada mahasiswa yang mau melakoninya.
Salah satunya adalah Fadjroel Rahman, mantan aktivis mahasiswa tahun 80-an. Karena aksi demonstrasi yang sering dilakukan, ia harus berhadapan dengan aparat keamanan.
“Saya bentrok di depan Kapolwiltabes Bandung, kepala robek tujuh jahitan dihantam popor brimob. Di penjara juga bentrok dengan sipir,” kenangnya.
Tujuh jahitan yang bersarang di kepalanya adalah buah saat ia bersama kawan-kawannya membela petani Kacapiring dan Badega. Tentu saja hal ini bukan tanpa hikmah. Fadjroel mengatakan, saat di penjara ia seringkali dijenguk para petani Badega yang membawa pisang, singkong, dan hasil kebun mereka. Mereka berterimakasih karena sudah mendapatkan kembali hak ekonomi mereka atas tanah Badega.
“Ketika berjuang dan di penjara, saya menjadi paham apa artinya kebebasan dan menulis, serta hidup bersama kelas masyarakat yang paling dibuang di masyarakat. Di penjara, saya jadi sadar bahwa perjuangan mahasiswa sama saja dengan perjuangan rakyat biasa,” ujarnya.
Menurut aktivis yang sempat mengalami penahanan di Nusa Kambangan ini, perampasan hak-hak publik sama dengan perampasan hak-hak diri kita sendiri. Roy menuturkan bahwa pada 1978, begitu turun ke lapangan, mahasiswa mempunyai kekuatan yang mengakar. “Isu-isu rakyat langsung diakomodasi, lalu dikaji oleh mahasiswa. Karena mereka berempati dengan masyarakat, mereka bisa menyatu,” tambahnya.
Namun menurutnya, apa yang terjadi saat ini telah berbeda. “Sekarang aksi mahasiswa sudah titipan, malah setahu saya kadang mereka itu ada yang dibayar. Mahasiswa sekarang sudah tidak murni!”, tutur Roy berapi-api. Hermawan dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) berpendapat, mahasiswa hanya melakukan sedikit praktek di lapangan dan perubahan.
“Banyak aksi dilakukan bersama mahasiswa, tapi saat masuk ternyata ada keuntungan yang dimanfaatkan. Ya, memang tidak setiap organisasi muncul dari keinginan rakyat sendiri”, jelasnya.
Lain lagi dengan apa yang dipaparkan Yasraf tentang perjuangan mahasiswa. “Mahasiswa sekarang sangat dibentuk oleh banyak hal terutama media, hiburan, dan globalisasi. Akibatnya mereka tidak bisa dilepaskan dari pencitraan. Perjuangan mahasiswa sekarang ada kecenderungan ke arah itu, yakni ke arah menciptakan image,” kata penulis buku Transpolitika ini.
Yasraf sendiri mengakui bahwa dulu mahasiswa berjuang karena ada hal yang perlu diperjuangkan.
“Sekarang orang dikondisikan untuk mengejar popularitas karena ada berbagai pengaruh eksternal, sehingga mungkin berjuangnya ingin mendapatkan image tertentu. Misalnya, karena ingin ditonton orang,” sahutnya.
Fadjroel juga menilai ada beberapa kekurangan pada gerakan mahasiswa saat ini.
“Visinya sudah betul yaitu keadilan, kerakyatan, demokrasi, kesejahteraan, kebebasan, solidaritas, dan kemanusiaan yang bersandar pada konstitusi dan perjanjian internasional. Tetapi kerja organisasi untuk perubahan sosial belum berjalan efektif dan efisien,” katanya.
Bagi Roy, demonstrasi yang dilakukan mahasiswa saat ini tidak efektif untuk dilakukan. Ia merasa perlu ada pendekatan lain dalam pergerakan mahasiswa saat ini.
“Kita hanya bisa rasional ketika keluar dari massa, duduk, dan diskusi. Kesadaran itu bisa dimunculkan dalam situasi orang yang tidak banyak, situasi yang dikondisikan agar memunculkan suatu dialog.”
Bukan Hanya Salah Mahasiswa
“Kita tidak bisa menyalahkan mahasiswa juga, karena dia dibentuk oleh lingkungannya selama bertahun-tahun. Kurikulum juga dibuat sedemikian rupa, sehingga mahasiswa lupa dengan masalah yang sebenarnya, dan perhatiannya kepada masyarakat teralih,” papar Ika, mahasiswi yang kini berafiliasi dengan Front Mahasiswa Nasional (FMN) Unpad.
Berbicara tentang kurikulum, Yasraf pun angkat bicara. “NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus-red) tujuannya memang untuk membatasi pergerakan mahasiswa. Tujuan utamanya menjadikan mahasiswa tidak punya waktu lagi untuk berpolitik praktis. Mahasiswa kehilangan moment untuk terjun ke dalam persoalan yang nyata,” ujarnya.
Yasraf menambahkan, mahasiswa tidak peduli lagi apa gunanya ilmu yang mereka dapat untuk masyarakat. NKK/BKK melenyapkan kontak mahasiswa sebagai calon intelektual dengan masyarakatnya, sebagai salah satu dimensi dari manusia itu sendiri. Lalu apakah berarti gerakan mahasiswa saat ini sudah tidak dapat diharapkan?
Rasanya masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal itu. Karena di tengah berbagai kritik, masih ada yang mengharapkan mahasiswa terus berjuang. Memang tinggal menunggu momentum yang tepat. Namun, dapatkah gerakan mahasiswa menciptakan ketimbang menunggu momentum? Agenda gerakan mahasiswa haruslah menghela sejarah, bukan menunggu masa kritis maupun momentum yang dihela oleh elit-elit politik yang bertikai.
Nisa – Erlyna – Rani
