Si Biru Menuai Konflik

angkot biru unpad 

Kuning yang menyelimuti tubuhnya tak secerah dulu. Kini, diusianya yang menjelang senja kerangkanya pun mulai rapuh. Asap hitam-pekat dari knalpot membumbung, memudar ke angkasa. Namun, dia tetap melaju. “Bis kuning”, dia dinamai, menyusuri jalan naik-turun dan berkelok-kelok, mengantarkan penumpangnya yang sebagain besar mahasiswa ke tempat tujuannya.

Tapi, belakangan ini bis tersebut tidak menunjukkan keberadaannya lagi. Alternatif sampai ke kampus dengan gratis selain jalan kaki pupus bersama tidak beroperasinya bis kuning ini. Mereka pun harus rela merogoh sakunya untuk naik angkutan kampus lama ataupun ojek. Bahkan, ada yang rela berkeringat dengan berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuannya.

Tak lama setelah bis kuning tak terlihat lagi kerangka tuanya, mahasiswa disuguhi angkutan baru. Kendaraan yang bertuliskan angkutan mahasiswa dan karyawan di bagian sisinya ini mulai beroperasi di akhir November 2005 lalu. Empat buah unit Angkutan kampus biru ini ngetem di gerbang Universitas Padjadjaran (Unpad) yang letaknya tak jauh dari pangkalan Damri (pangdam).

Walau tidak gratis, keberadaan angkutan ini cukup meringankan beban mahasiswa yang semakin berat akibat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) awal Oktober 2005 lalu. “Keberadaan angkutan baru itu bagus. Setidaknya, harganya lebih murah, harganya lebih mahasiswa banget,” Ujar Wela Fitria, Mahasiswa Fikom angkatan 2003 asal Antapani.

Belum genap seminggu, keberadaan Mitsubishi L-300 itu menimbulkan kecemburuan para pengojek yang mangkal di sekitar pangdam. Sebagian besar pengojek merasa gerah dengan kehadirannya yang mulai mempengaruhi pendapatan mereka. “Iya pengaruh (semenjak ada angkutan kampus biru-Red), pendapatan jadi berkurang. Soalnya, kebanyakan mahasiswa jadi lebih memilih naik mobil (angkutan kampus biru) dibanding ojek,” keluh Ian, pengojek pangdam.

Namun, tak banyak yang dapat dilakukan para pengojek saat itu. Mereka bersepakat untuk menggelar aksi di depan gerbang tempat mangkal keempat angkutan baru itu. “Berhentiin mobil, mengadakan semacam orasilah. Setiap jalan di-cut. Terus, penumpang mahasiswa disuruh turun semua, tapi tetap nggak dibawa sama tukang-tukang ojek di sana,” tutur Agus, Ketua Perkumpulan Ojek Pangdam.

Para pengojek menuntut angkutan biru kampus untuk tidak mengambil penumpang di daerah Pangdam. Mereka menganggap semenjak hadirnya angkutan biru kampus menyebabkan pendapatan mereka berkurang. Meskipun sosialisasi mengenai beroperasinya angkutan baru itu sudah ada, para pengojek menyayangkan karena mereka merasa tidak dilibatkan.

Menurut Agus, sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Unpad hanya sampai ke Koramil, Kecamatan, dan Polsek, tidak sampai ke telinga pengurus ojek setempat. “Nah itu dia, yang disayangkan kenapa dulu itu (pihak Unpad-Red) nggak ada konsultasi terlebih dahulu sama pengurus ojek di sini,” tambah laki-laki yang juga anggota Polsek Jatinangor.

Pernyataan ini dibantah oleh pihak Unpad melalui Kepala Sub-bagian Umun Rumah Tangga, Dudi Gunadi. Saat ditemui di ruang kerjanya, lulusan Pertanian Universitas Winayamukti ini berkata, “Ada sosialisasi. Kita bikin spanduk, dua minggu sebelum mobil beroperasi”. Tapi, dia pun tak menyangkal bahwa sosialisasi yang telah dilakukan itu tidak maksimal, sehingga terjadilah konflik tersebut.

Di minggu pertama setelah konflik itu muncul, Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KEMA) Unpad memfasilitasi pertemuan antara pihak Unpad dan pihak ojek Pertemuan ini diadakan untuk mencari jalan tengah. “Kita mediasi, BEM Unpad hanya sebagai mediator, bukan sebagai negosiator mempertemukan mereka,” Ujar Indra, Presiden BEM KEMA Unpad.

Dari pertemuan itu dihasilkan beberapa kesepakatan dari kedua belah pihak yang bersengketa. Di antaranya, trayek empat unit angkutan kampus biru dipisah. Dua unit di pangdam dan sisanya di gerbang lama Unpad.

Namun tak berbeda jauh dengan kondisi di pangdam, keberadaan angkutan kampus biru di gerbang lama pun mengundang sikap keberatan dari supir angkutan lama yang beroperasi jauh lebih dulu. Mereka merasa bahwa penghasilan hariannya mengalami penurunan. “Ya jelas kerasa kurangnya. Karena ‘kan lebih murah, lebih bagus, baru, nyaman,” keluh Tatang (50), supir angkot lama. Sama halnya dengan Parman yang juga seorang supir angkutan lama ini mengaku kini penghasilan per harinya mengalami penurunan. dari Rp120.000 menjadi Rp 75. 000.

Pengemudi angkutan lama lebih setuju jika angkutan kampus ini tidak memungut ongkos. Alasan ini didasarkan pada anggapan bahwa jika tidak ada pemberlakuan ongkos, pengemudi angkutan kampus biru tidak terlalu menargetkan penumpang.

“Nah, kalau Unpad itu untuk apa (menarik ongkos-Red)? Untuk memudahkan mahasiswa atau bisnis?. Harusnya kalau untuk membantu mahasiswa, gratis,” tambah Tatang, ayah beranak tiga ini. Parman juga menyesalkan tindakan pihak Unpad yang menggunakan orang luar sebagai pengemudi angkutan kampus biru. Sebagai penduduk lokal, rezekinya merasa dirampas ‘orang luar’.

Sesuatu yang baru tidak selalu dapat diterima dengan mudah. Kurangnya sosialisasi kerapkali memicu kesalahpahaman. Ada sisi positif yang harus dipetik: “Kebijakan yang bijaksana” adalah penutup terbaik untuk mengakhiri lembaran permasalahan ini. ***(Opict/Ian/Indri/Ega/Aal)



(dJatinangor edisi XVII/Th VIII/ Maret 2006)

 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://djatinangor.blogsome.com/2006/05/06/si-biru-menuai-konflik/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>